Sabtu, 11 Februari 2012

PENGARUH METODE PEMBELAJARAN DEMONSTRASI


 A. Latar Belakang Masalah
Belajar  bukan  semata  persoalan  menceritakan!  Belajar  bukanlah konsekuensi  otomatis  dari  perenungan  informasi  kedalam  benak  siswa ,  namun  belajar  memerlukan  keterlibatan  mental  dan kerja  sendiri.    Artinya  bahwa  proses  pembelajaran  tidak  hanya  untuk mengubah  perilaku  peserta  didik  dalam  ranah  kognisi  dan  atau  ketrampilan saja,  melainkan  untuk  mengembangkan  sikap  dan  perilaku  demokratis,  senang  mendengarkan  dan  memberikan  informasi,  menghargai  pendapat, saling belajar, gemar berorganisasi dan bekerjasama dalam satu kesatuan tim.
Setiap  peserta  didik  memiliki  perbedaan  yang  unik. Mereka memiliki kekuatan, kelemahan, minat dan perhatian yang berbeda-beda. Latar belakang keluarga,   sosial ekonomi,   dan  lingkungan.   Membuat peserta didik berbeda dalam  aktifitas,  kreatifitas,  intelegensi,  dan  kompetensinya. 
(Mulyasa, 2005 : 27)

Dalam  Undang-Undang  No.20  Tahun  2003  telah  di  jelaskan  tentang sistem Pendidikan Nasional Bab II pasal 3 yang berbunyi :
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak  serta  peradaban  bangsa,  yang  martabat  dalam  rangka  mencerdaskan kehidupan bangsa. Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia  yang  beriman,  cakap,  kreatif, mandiri  dan menjadi  warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Pada  masa   sekarang  masih   banyak   guru   yang  menerapkan  metode ceramah pada siswanya.  Siswa dianggap memiliki  pemahaman seperti  guru. Bahkan   guru   tidak  mempunyai   konsep   pembelajaran,   yang   penting   target pembelajaran   dan  deadline  terpenuhi.   Supaya  memper-cepat   pembelajaran guru mengajar hanya dengan ceramah dan siswa hanya mendengarkan saja, tidak   memperdulikan   apakah   siswa   dapat  mengerti   atau   tidak.   Hal   ini mengakibatkan   terjadi   kejenuhan   pada   siswa.  Apalagi  memerlukan  waktu yang lama 2 sampai 3 jam per mata pelajaran   yang akibatnya hanya sedikit ingatan tentang pelajaran yang didapat.
Sejauh  ini,  ada sebuah  fenomena yang  tidak bisa dipandang sebelah mata oleh para guru, dimana banyak peserta didik yang merasa sekolah ibarat penjara, sekolah merupakan candu, sekolah tidak bisa menimbulkan semangat belajar. Bahkan  lebih parah,  banyak peserta didik yang paling suka bila sang guru absen, tanpa merasa kehilangan sesuatu. Boleh jadi, fenomena tersebut disebabkan selama ini peserta didik hanya diposisikan sebagai objek atau robot yang harus dijejali beragam materi sehingga membuat peserta didik tidak   betah   di   kelas.   Sedangkan,   pengajaran   yang   baik   yaitu   ketika   para peserta didik bukan hanya sebagai  objek  tapi   juga subjek.   Jadi   siswa akan menjadi aktif tidak pasif dengan begitu, peserta didik akan merasa betah dan paham penjelasan guru. Untuk mengejawantahkan hal ini dibutuhkan kejelian dan krekatifitas guru dengan cara mendesain model  pembelajaran yang bisa mengena   setiap gaya  belajar   setiap peserta  didik.  Sehingga   semua  peserta didik merasa enjoy dan pas atas  sajian yang disampaikan oleh guru,   tanpa merasa bosan dan terkekang.
Jika  pendidik menginginkan  agar   tujuan pendidikan  tercapai   secara efektif  dan  efisien,  maka  penguasaan materi   saja   tidaklah  cukup. Ia  harus menguasai berbagai teknik atau metode penyampaian yang tepat dalam proses belajar  mengajar.   Ia   juga   dapat  mempergunakan  metode menga-jar   secara bervariasi, sebab masing-masing metode memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga dalam penggunaannya pendidik harus menyesuaikan dengan materi yang diajarkan dan kemampuan peserta didik.  Pemilihan  teknik dan metode yang  tepat  memerlukan keahlian  tersendiri,  sehingga pendidik harus pandai memilih dan menerapkannya.
Guna   memenuhi   kebutuhan   tersebut,   pengajaran   harus   bersifat multisensori dan penuh variasi.  Hal ini bisa dilakukan dengan cara beragam dan dalam semua mata pelajaran. Guru dalam menyampaikan mata pelajaran bukan   hanya   dengan  metode   ceramah   atau   auditori-guru   berbicara  murid mendengarkan   tanpa   ada  feedback  (umpan   balik)-,   namun   guru   harus menggabungkan ranah visual dan kinestetik.  Misalnya dalam pelaran agama Islam tentang shalat, guru atau ustadz tidak hanya menjelaskan secara verbal tentang apa itu salat dan kaifiyat (tata cara) salat dari A sampai Z, namun juga bisa menggunakan media audio-visual berupa VCD pembelajaran sholat. Selain lebih efektif dan efisien,  hal   ini  bisa membuat  peserta didik menikmati pembelajaran  dan  tidak jenuh   lantaran  merasa   ikut   aktif   dalam  proses   belajar.   Setelah   itu,  untuk menyentuh aspek kinestetiknya, peserta didik diajak untuk mendemonstrasikan/ mempraktikkannya satu   persatu   atau   secara   kolektif.   Hal   ini   dapat   menghindari ketidak-pahaman para peserta didik dan peserta didik akan menjadi aktif dan tidak jenuh dalam mengikuti proses belajar di kelas.
Dalam   mata   pelajaran   Fiqih   untuk   siswa   pada   umumnya   guru menggunakan metode pembelajaran ceramah. Dengan metode tersebut, siswa dituntut   untuk   duduk   dengan   tenang,   mendengarkan   dan  melihat   guru mengajar   selama   berjam-jam.  Gaya   guru   yang   statis   dapat menim-bulkan kejenuhan   siswa   dalam  mengikuti   pelajaran,   yaitu   adanya   sikap   kurang perhatian   terhadap  materi,   gelisah   dan   bosan.  Metode   ceramah   sebaiknya digunakan apabila akan menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik yang jumlahnya besar.
Dari  keterangan diatas  menunjukkan bahwa metode dalam kegiatan belajar  mengajar  khususnya  pembelajara Fiqih adalah  faktor  yang penting, sehingga   berbagai  metode   dapat   digunakan   dalam menyampaikan materi Fiqih, karena pada hakikatnya siswa lebih menyukai suatu pembelajaran yang menyenangkan atau melalui aktivitas-aktivitas dalam kelas.
MI Ma’arif Kutasari Kecamatan Cipari Kabupaten Cilacap adalah   salah   satu lembaga pendidikan  dasar  yang berciri  khas agama Islam yang berada di naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU. MI Ma’arif Kutasari menjadi  salah satu sekolah unggulan didaerah setempat  dan dapat  dikatakan memiliki kualitas   sekolah yang baik. MI Ma’arif Kutasari diakui sebagai salah satu sekolah swasta favorit di desa Kutasari dan desa sekitarnya. Pendapat ini dapat dibuktikan dengan banyaknya jumlah siswa yang ada di sana dan setiap tahun jumlah peminat selalu meningkat. Selain itu, sekolah tersebut mengedepankan siswanya dibidang ”imtaq” dan ”iptek”. Wujud    upaya   peningkatan   mutu   yang   ditempuh   oleh   pihak Madrasah, diantaranya dengan menerapkan metode demonstrasi yang   merupakan   metode  peng-aktifan   siswa   dalam   belajar,   sehingga siswa diharapkan dapat  menerapkan  ilmunya di  masyarakat  dengan baik dan benar.
Demonstrasi berasal dari bahasa Inggris demonstration, yang memiliki arti melakukan, mempraktekkan sesuatu. Penerapan metode demonstrasi dalam kegiatan belajar mengajar di MI Ma’arif Kutasari merupakan respon yang baik terhadap perkembangan mutakhir   sistem  pendidikan   di Indonesia   khususnya   dalam pembelajaran Fiqih, yang merupakan mata pelajaran penting sekaligus pendukung bagi mata pelajaran lainnya.
Berdasarkan uraian diatas maka peneliti   terdorong untuk melakukan penelitian   dengan   judul   :   “Pengaruh Metode Pembelajaran Demonstrasi Pada Mata Pelajaran Fikih Terhadap Daya Serap Siswa Kelas Empat MI Ma’arif Kutasari“.


B. Definisi Operasional
Untuk menghindari terjadinya kesalah pahaman terhadap judul diatas, maka penulis merasa perlu menjelaskan beberapa definisi/ istilah yang terdapat dalam judul tersebut sebagai berikut :
1. Metode
Metode artinya 1) cara yang teratur berdasarkan pemikiran yang matang untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan dan sebagainya); 2) cara kerja yang teratur dan bersistem untuk dapat melaksanakan suatu kegiatan dengan mudah guna mencapai maksud yang ditentukan (BSE: Kamus   Bahasa  Indonesia,  2008:  952).  Dari uraian tersebut dapat  diartikan bahwa metode atau metodologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari cara-cara yang ditempuh  untuk mencapai suatu tujuan dengan hasil yang efektif dan efesien.

2. Demonstrasi
Secara bahasa, demonstrasi dapat diartikan sebagai peragaan atau pertunjukan tentang cara melakukan atau mengerjakan sesuatu (BSE: Kamus Bahasa Indonesia, 2008: 337).
Sedangkan secara istilah dalam bidang pendidikan, Muhibbin Syah mendefinisikan metode demonstrasi (demonstration method) adalah suatu metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan (Mansur muslich, 2007, 200). Sedangkan menurut Syaiful Bahri Djamarah menyatakan bahwa metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan suatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran (Mansur muslich, 2007, 201).
3. Pembelajaran
Upaya membelajarkan siswa untuk belajar dalam pembelajaran menunjukkan adanya interaksi antara guru dan siswa, di satu pihak guru melakukan kegiatan atau perbuatan-perbuatan yang membawa anak   ke   arah   tujuan,   lebih   dari   itu   anak   atau   siswa   dapat  melakukan serangkaian kegiatan yang disediakan guru yaitu kegiatan belajar  yang terarah pada tujuan yang ingin dicapai.
4. Fiqih
Secara etimologi, fiqih berasal dari bahasa arab faqiha-yafqahu-fiqhan    فقه- يفقه- فقها yang berarti al-fahmu الفهم (paham) (Rahmat Sayafe’i, 2004; 13). Sedangkan secara terminologi, fiqih adalah  ilmu  yang mempelajari tentang hukum-hukum syara’  yang  ‘amaliah  (praktis) yang   diambil   dari   dalil-dalil   yang   terperinci.  Al-Jurzaniy  memberikan definisi lain sehubungan dengan pengertian fiqih, yaitu sebagai suatu ilmu yang diperoleh dengan menggunakan pemikiran (Djazuli, 2000: 20).
Mata  pelajaran  fiqh  dalam  kurikulum Madrasah    adalah salah satu bagian mata pelajaran pendidikan agama Islam yang diarahkan untuk menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati dan mengamalkan hukum Islam, yang kemudian menjadi dasar pandangan hidupnya  melalui  kegiatan  bimbingan,  pengajaran,  latihan,  penggunaan pengalaman dan pembiasaan. (Depag RI, 2004 : 46). Fiqih yang dimaksud dalam penelitian  ini  adalah sub bidang studi  pendidikan Islam yang diajarkan di MI Ma’arif Kutasari.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat ditegaskan arti keseluruhan dari judul penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan metode  demonstrasi  dalam  pembelajaran   fiqih   di  MI Ma’arif Kutasari.

C. Rumusan Masalah
Rumusan  masalah   ini   dimaksudkan   agar   penelitian   tidak  melebar permasalahannya,   sehingga mudah untuk memahami  hasilnya.  Berdasarkan latar  belakang yang  telah penulis  uraikan diatas  dapat  dirumuskan  sebagai berikut:
1. Bagaimana   pelaksanaan  metode  demonstrasi  dalam  pembelajaran Fiqih di MI Ma’arif Kutasari?
2. Apakah   ada faktor   pendorong   dan   penghambat   dalam   penerapan  metode demonstrasi?
3. Adakah hubungannya antara penerapan metode demonstrasi dengan daya serap siswa kelas VI di MI Ma’arif Kutasari?


D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Tujuan dari suatu penelitian adala suatu yang akan dicapai setelah proses penelitian dilakukan. Biasanya tujuan penelitian bisa dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu: a) untuk memperkaya ilmu pengetahuan yang ada, b) mencari dan menunjukkan masalah beserta pemecahan masalah, dan c) menyelesaikan masalah yang telah diketahui ( Umi Zulfa, 2009; 79). Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini adalah :
a. Mendeskripsikan   pelaksanaan   metode pembelajaran demonstrasi    dalam pembelajaran Fiqih di MI Ma’arif Kutasari.
b. Untuk mengetahui faktor pendorong dan penghambat dalam penerapan Demonstrasi.
c. Untuk mengetahui sejauh mana hubungannya antara penerapan metode demonstrasi dengan daya serap siswa kelas VI di MI Ma’arif Kutasari.
2. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Teoritis
1. Memberikan   masukan   dan   sebagai   informasi   di   kalangan masyarakat, siswa dan pada dunia pendidikan dalam khasanah ilmu pengetahuan.
2. Hasil   penelitian   ini   diharapkan   bisa   sebagai   bahan   literature penelitian yang akan datang dengan masalah yang sejenis.


b. Manfaat Praktis
1. Memberi   informasi  bagi  guru dalam meningkatkan mutu proses belajar mengajar dikelas, khususnya di MI Ma’arif Kutasari.
2. Untuk meningkatkan sumber daya umat Islam yang berkualitas.

E. Telaah  Pustaka
Berdasarkan pengamatan penulis, penelitian semacam ini juga pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya, diantaranya :
1. Ita Isdiyanti  (STAIN:  2006),  dengan  judul  skripsi  Pelaksanaan Metode Demonstrasi Dalam Pembelajaran PAI kelas III SD Islam Al-Azhar  28   Solo   Baru.  Penelitian   ini  menemukan   bahwa   dalam  pelaksanaan kegiatan belajar  mengajar  dengan menggunakan metode ceramah  tanpa mengimbanginya   dengan  metode   lain   telah  menjadi     persoalan   yang cukup mendasar,  yakni tujuan pembelajaran kurang optimal, munculnya generasi-generasi yang pasif, tidak mempunyai kreatifitas dalam berfikir, dan dalam hidupnya mereka akan bergantung pada orang  lain.  Belajar aktif merupakan  langkah cepat,  menyenangkan,  mendukung,  dan secara pribadi menarik hati, dimana siswa dapat mengajukan pertanyaan tentang pelajaran tertentu, dan mendiskusikannya dengan yang lain. Pelaksanaan Metode Demonstrasi Dalam Pembelajaran PAI kelas III SD Al-Azhar 28 Solo Baru dilakukan dengan berbagai  cara,  yaitu:  dengan membagi siswa menjadi beberapa kelompok di awal pelajaran, guru memfasilitasi anak   dengan  mempersiapkan   beberapa   alat  edugame,   serta   di   akhir pelajaran guru selalu memberikan tugas dilembar kerja. Adapun kendala yang dialami antara lain, saat kegiatan belajar mengajar berlangsung ada beberapa   siswa   yang   membuat   keributan,   sehingga   siswa   lain   jadi terganggu,  serta  tidak semua mata pelajaran dapat  tersampaikan dengan metode permainan.
2. Intan Azizah  (UMS:  2006)  dalam  skripsinya  yang berjudul  Efektifitas Strategi  “Card Sort” Dan “Index Card Match” Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama  Islam Di  Kelas   IV SD Negeri  Saren 2 Kalijambe Sragen Tahun Ajaran 2005/2006 menyimpulkan bahwa  strategi  “Index Card Match”  lebih efektif  daripada strategi  “Card Sort” bila digunakan dalam pembelajaran Pendidikan Agama   Islam di  kelas   IV SD Negeri Saren 2 Kalijambe Sragen tahun ajaran 2005/2006.
3. Ahmad  Zanin  Nu’man   (UMS:   2007)   dalam  skripsinya   yang   berjudul Metode Demonstrasi dalam Pembelajaran Bahasa Arab Di Madrasah Aliyah Keagamaan Darul Falah Sirahan Kecamatan Cluwak Kabupaten Pati   Tahun   ajaran   2006-2007  yang   berkesimpulan   bahwa   para   guru bahasa   arab   di   pondok  Darul   Falah   telah  memakai   beberapa  metode Demonstrasi, seperti  True or False,  Broken Teks dan Rotating roles, dan hasilnya cukup meningkatkan daya belajar para siswa.
Berdasarkan   penelitian   di   atas,   tampak   belum  ada   yang  meneliti tentang pembelajaran fiqih dengan menggunakan Metode Demonstrasi terutama   di  MI Ma’arif Kutasari. Dengan demikian, masalah yang diangkat dalam penelitian ini memenuhi unsur kebaruan atau non-duplikasi.

F. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field recearch). Adapun sifat  penelitian  ini   adalah kualitatif,   sehingga   tanpa  menggunakan  teknik analisis statistic ataupun interpretasi kuantitatif.
2. Menentukan Subyek Penelitian
Populasi  adalah  seluruh  subyek penelitian,  apabila  seseorang  ingin meneliti semua elemen dalam suatu wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan   penelitian   populasi   studi,   atau   penelitiannya   juga   disebut populasi / studi sensus (Suharsini Arikunto, 1993: 102). Dalam penelitian ini populasinya adalah  siswa MI Ma’arif Kutasari kelas IV yang berjumlah 31 siswa beserta guru. Karena jumlah populasinya 31 siswa maka penelitian termasuk penelitian populasi.
3. Metode Pengumpulan Data
Untuk dapat  memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian  ini, penulis menggunakan beberapa metode, yaitu :
a. Metode Observasi
Metode observasi  adalah pengamatan dan pencatatan sistematis fenomena   yang   diteliti   (Suharsini,   1998:   128).  Metode   ini   penulis gunakan   untuk  mengamati,  mendengarkan,   dan  mencatat   langsung terhadap   pelaksanaan  metode  demonstrasi  dalam  pembelajaran Fiqih di MI Ma’arif Kutasari.
b. Metode Interview
Metode  interview  adalah   sebuah   dialog   yang   dilakukan   oleh pewawancara   (interviewer)   untuk   memeperoleh   informasi   dari terwawancara   (interviewee).   (Suharsimi,   1998:   126)   maksud penggunaan metode ini adalah untuk mencari data yang berhubungan dangan kurikulum,  metode,  dan  teknik yang digunakan,   serta usaha lain dalam kegiatan pembelajaran Fiqih yang dalam hal ini dilakukan dengan kepala sekolah dan guru Fiqih.
c. Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan lain-lain (Suharsimi, 1998: 159). Metode ini penulis  gunakan untuk memperoleh data   tentang  sejarah berdirinya MI Ma’arif Kutasari,   struktur  organisasi,  keadaan karyawan dan guru, siswa, sarana prasarana dan sebagainya.

4. Metode Analisis Data
Setelah data terkumpul, selanjutnya dilakukan analisis data. Adapun analisis datanya akan menggunakan analisis kualitatif, dengan 3 langkah:
(a) Reduksi data (data reduction),
(b) Penyajian data (data display),
(c) Penarikan kesimpulan (verification). 
Ketiga  langkah  tersebut  bersifat   interaktif.  Pada tahap  reduksi  data akan dilakukan kategorisasi  dan pengelompokkan data yang  lebih penting,  yang bermakna dan  relevan dengan  tujuan penelitian, sehingga   kesimpulan-kesimpulan   finalnya   dapat   ditarik   dan   diverifikasi. Terakhir,   pada   tahap   penarikan   kesimpulan   akan   dilakukan   pengujian kredibilitas, transfer-bilitas, dan reliabilitas.

G. Sistematika Penulisan Skripsi
Sebuah  skripsi   akan  lebih  sistematis   jika  disusun dengan  sistematika sesuai   dengan   kaidah   yang   baik,   maka   dalam   skripsi   ini   penulis   akan mencantumkan sistematika dalam penulisan skripsi:
BAB I   Pendahuluan yang meliputi latar belakang masalah,  penegasan istilah,   rumusan   masalah,   tujuan   dan   manfaat,   kajian   pustaka,   metode penelitian dan sistematika penulisan skripsi.
BAB   II      Membahas   tentang   pengertian   metode  demonstrasi, karak-teristik   pembelajaran   aktif,   beberapa   jenis   metode  pembelajaran demonstrasi, kekurangan dan kelebihan,  hal-hal  yang harus  diperhatikan dalam penggunaan metode demonstrasi dan pola pembelajaran fiqih.
BAB III Membahas tentang pelaksanaan metode  demonstrasi dalam pembelajaran fiqih yang terdiri atas;
a)      Gambaran Umum
Disini penulis akan menjelaskan tentang Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ma’arif Kutasari yang meliputi letak geografis sekolah, sejarah berdirinya, struktur organisasi, visi dan misi, prestasi MI Ma’arif Kutasari,keadaan guru, karyawan   dan   siswa,   serta   sarana   dan prasarana.  
b)  Gambaran   umum  pelaksanaan  metode  demonstrasi  dalam pembelajaran   fiqih,   alasan   penggunaan   metode  demonstrasi,   faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan metode demonstrasi.
BAB  IV   Analisis   data   terhadap   pelaksanaa  metode  demonstrasi dalam   pembelajaran   fiqih,   faktor   pendukung   dan   penghambat   dalam pelaksanaan metode demonstrasi.
BAB V   Penutup yang meliputi kesimpulan dan saran.
Terahir kali dalam skripsi ini adalah daftar pustaka serta lampiran-lampiran yang peneliti peroleh selama penelitian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar